Aksi OPM Hanya Cari Eksistensi untuk Dapat Dana

Jakarta – Menjelang 1 Desember, Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin gencar melakukan aksi kekerasan. Ketua Umum Presidium Puyra-Putri Pejuang Pepera (P5), Yanto Eluay mengatakan, OPM mendapat benefit di tengah isu HUT OPM.

“Ingin mendapatkan makanan. Mereka hanya cari eksistensi untuk mendapatkan bagian dana dari pemerintah,” kata Yanto dalam program acara Trijaya Hot Topic Petang dengan tema “Waspada KKB Teroris Papua Jelang HUT OPM”, Selasa (23/11/2021).

Meski demikian, menurut Yanto, kekerasan yang dilakukan OPM tidak mencerminkan kondisi Papua secara keseluruhan. Kejadian hanya terjadi pada satu lokasi. Sementara di wilayah lainnya masih kondusif.

“Kondisi kekerasan di Papua jangan digeneralisir. Geografis papua sangat luas. Kejadian penembakan anggota TNI di Yakuhimo, tidak mengganggu aktivitas warga secara umum di Papua. Namun tetap harus di waspadai,” ujarnya.

Ia menambahkan, isu soal meningkatknya eskalasi jelang HUT OPM 1 Desember, disikapi biasa saja oleh masyarakat Papua. Saat ini masyarakat Papua sudah mulai cerdas. Bahkan sebagain lebih fokus untuk menyiapkan ibadah Natal.

Yanto mengatakan, pendekatan pembangunan dan kesejahteraan di wilayah Papua di era Presiden Joko Widodo semakin baik. Meski demikian, diperlukan sosialisasi dari semua komponen termasuk lembaga adat.

“Termasuk pemanfaatan alokasi dana otonomi khusus. Meski sudah terlihat sejumlah pembangunan,” kata dia.

Yanto menegaskan, KKB Papua sudah masuk gerakan teroris dan harus ditumpas. Agar tidak dituding melanggar hak asasi manusia dunia, maka sebaiknya membiarkan aparat TNI dan Polri bekerja dengan pola mereka.

“Kita berharap Papua tetap aman,” ungkapnya.

Ketua Program Studi Kajian Terorisme & Strategik Global UI, Muhammad Syauqillah menyatakan prihatin atas penembakan anggota TNI Di Yakuhimo Papua.

“Dalam Konteks Terorisme Dan UU Yang Ada, melakukan penyerangan dan membauat kekacauan serta mengganggu keamanan, KKB Papua ini memang sudah memenuhi unsur tindak pidana terorisme,” paparnya.

Ia mengatakan, menjelang 1 Desember ada peningkatan eskalasi kekerasan. Meski belum ada data, kemungkinan aksi dilakukan sengaja untuk mencari perhatian.

“Mendukung penuh pernyataan Panglima TNI soal penyelesaian KKB Papua tidak dengan perang. Bisa dengan dialog, komunikasi, menyamakan persepsi, dan gagasan bersama. Perlu ada pendekatan tokoh adat, elit, serta pemuka agama agar esklasi tidak semakin meningkat.” kata Syauqillah.

Diterbitkan oleh rinitimur

Bebas Berekspresi Untuk Majukan Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: